Ratusan Santri Sukorejo Batal Berangkat, Program Balik Pesantren 2026 Dipertanyakan

- Redaksi

Selasa, 31 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Surabaya, Timeskota.com – Polemik mencuat dalam pelaksanaan program “Balik Pesantren 2026” yang digagas Pemerintah Kabupaten Sumenep. Program yang sebelumnya diklaim gratis 100 persen bagi santri, kini menuai sorotan setelah ratusan peserta dilaporkan gagal berangkat.

Ratusan santri tujuan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, batal diberangkatkan dalam pelayaran KMP Dharma Kartika rute Raas–Jangkar pada Senin (30/3) pagi. Dugaan penyebabnya adalah kuota yang seharusnya diperuntukkan bagi santri justru terisi oleh penumpang umum.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, daftar penumpang umum sudah lebih dulu memenuhi kapal sejak malam sebelumnya. Akibatnya, santri yang telah terdaftar dalam program tersebut tidak mendapatkan tempat.

Baca Juga:  Distribusi Air PDAM ke Pinggirpapas Dipertanyakan, Dugaan Kualitas Tak Sesuai Standar Kesehatan Mencuat

Seorang wali santri mengungkapkan kekecewaannya terhadap kejadian ini. Menurutnya, program yang telah disetujui pemerintah daerah seharusnya tidak mengalami praktik yang terkesan dikomersialisasi.

“Santri sudah dijanjikan berangkat gratis, tapi kenapa justru tiketnya dipakai untuk umum,” ujarnya.

Kepala Disperkimhub Sumenep mengakui adanya persoalan di lapangan, namun menyebut hal itu sebagai miskomunikasi. Ia menjelaskan bahwa sebagian santri datang terlambat sehingga sisa kuota dibuka untuk masyarakat umum.

Sementara itu, pihak pengelola kapal menyebut adanya ketidaksesuaian data jumlah santri dengan kapasitas kapal, khususnya terkait alat keselamatan. Jumlah santri yang hadir disebut melebihi batas yang diizinkan, sehingga tidak seluruhnya bisa diakomodasi.

Baca Juga:  Suit Up Ladies: girltrunks Are Making a Splash

Di sisi lain, beberapa santri yang sempat naik ke kapal dikabarkan tidak mendapatkan tempat duduk dan harus berdiri. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan, hingga akhirnya diputuskan untuk menurunkan kembali seluruh santri.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius terkait tata kelola program Balik Pesantren 2026. Sebagai program resmi yang melibatkan data peserta, seharusnya terdapat sinkronisasi yang jelas antara jumlah kuota, daftar nama santri, serta kesiapan armada transportasi.

Ketidaksesuaian yang terjadi menunjukkan adanya kelemahan dalam koordinasi antar pihak, baik panitia, pemerintah daerah, maupun operator transportasi. Hal ini berpotensi menimbulkan kerugian, tidak hanya secara materiil, tetapi juga secara psikologis bagi para santri dan wali mereka.

Baca Juga:  RSUD dr. H. Moh. Anwar Tingkatkan Budaya Mutu dan Pelayanan

Selain itu, transparansi dalam pengelolaan kuota menjadi sorotan utama. Jika benar terdapat pengalihan kuota kepada penumpang umum, maka perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan tidak adanya penyalahgunaan kewenangan.

Program yang sejatinya bertujuan membantu santri kembali ke pesantren pasca libur Lebaran ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Pemerintah daerah diminta untuk memperbaiki sistem pendataan, memperkuat koordinasi lapangan, serta memastikan bahwa hak santri sebagai penerima manfaat benar-benar terpenuhi.

Tanpa perbaikan yang konkret, program yang awalnya membawa harapan justru berisiko menurunkan kepercayaan publik terhadap pelayanan pemerintah

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel timeskota.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

APBDes Desa Kombang Talango 2024–2025 Dipertanyakan, Diam Bukan Jawaban
Terparkir Berdebu, Mobil Dinas Berpelat Merah Jadi Sorotan Ketua AWDI Sumenep
Haswal Group Buka Pembelian Perdana Tembakau Sumenep, Harga Capai Rp70 Ribu
APBDes Kombang Disorot, Dugaan Tumpang Tindih Anggaran hingga Kegiatan Fiktif Mencuat
Proyek Rekonstruksi Jalan Batuan–Matanair Disorot, Ketua AWDI Sumenep Warning CV Gudang Satu
Uang Rakyat Rp2,57 Miliar, Jalan Batuan–Matanair Baru Dibangun Sudah Retak: Diduga Dikerjakan Asal-asalan
Yusuf Nahkodai Gapoktan Paseyan Periode 2026–2031, Bawa Semangat Baru untuk Petani
Pasar Tembakau Sumenep Kian Terbuka, Prancak 95 Mulai Dipasok ke Mitra PT Djarum

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:13 WIB

APBDes Desa Kombang Talango 2024–2025 Dipertanyakan, Diam Bukan Jawaban

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:05 WIB

Terparkir Berdebu, Mobil Dinas Berpelat Merah Jadi Sorotan Ketua AWDI Sumenep

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:35 WIB

Haswal Group Buka Pembelian Perdana Tembakau Sumenep, Harga Capai Rp70 Ribu

Minggu, 23 Agustus 2026 - 16:33 WIB

APBDes Kombang Disorot, Dugaan Tumpang Tindih Anggaran hingga Kegiatan Fiktif Mencuat

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:35 WIB

Proyek Rekonstruksi Jalan Batuan–Matanair Disorot, Ketua AWDI Sumenep Warning CV Gudang Satu

Berita Terbaru