SUMENEP | timeskota.com – Menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan melalui dapur di bawah naungan Yayasan Darul Arqom Batugerbuy, Desa Pordepor, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, menuai keluhan dari salah seorang wali siswa.
Wali siswa yang enggan disebutkan namanya mempertanyakan kesesuaian antara anggaran yang dialokasikan setiap porsi dengan menu yang diterima siswa. Menurutnya, kondisi tersebut patut mendapat perhatian dan penjelasan dari pengelola dapur maupun para mitra yang terlibat.
Sorotan tersebut sekaligus menjadi sentilan bagi kepala dapur dan para mitra MBG agar tidak menjadikan program ini sekadar urusan pembagian makanan dan keuntungan, sementara transparansi mengenai anggaran per porsi justru menjadi tanda tanya.
“Kalau anggaran per porsinya sudah ditentukan, jangan sampai yang dipikirkan hanya bagaimana mendapatkan keuntungan. Siswa dan penggunaan anggarannya juga harus diperhatikan,” ujar wali siswa tersebut.
Ia berharap kepala dapur dan para mitra dapat lebih terbuka mengenai berapa nilai anggaran setiap porsi dan bagaimana perhitungannya, sehingga masyarakat tidak dibuat bertanya-tanya ketika melihat paket makanan yang diterima siswa.
Jangan sampai program yang diperuntukkan bagi siswa justru lebih banyak menguntungkan pihak pengelola. Jika memang pengelolaannya sudah sesuai ketentuan, tentu keterbukaan menjadi bagian penting untuk menjawab berbagai pertanyaan masyarakat.
Wali siswa juga meminta agar pihak terkait melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan MBG, khususnya menyangkut realisasi anggaran per porsi, sehingga tidak muncul dugaan adanya selisih antara nilai anggaran dengan apa yang benar-benar diterima siswa.
Sementara itu, Kepala SPPG Pordepor memberikan tanggapan terkait foto menu MBG yang beredar. Ia menyarankan agar dokumentasi menu dilakukan saat makanan masih berada di sekolah dan disajikan dalam ompreng.
“Waalaikumsalam. Kalau mau foto menu, pas masih di sekolah di ompreng, karena sejatinya paket MBG tidak boleh dibawa pulang. Selain takut tidak layak dimakan, khawatir kalau difoto ada menu yang tidak terfoto, seperti foto di atas,” ujar Kepala SPPG Pordepor.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari klarifikasi pengelola terkait dokumentasi menu MBG, sekaligus menunjukkan pentingnya foto yang menampilkan paket makanan secara utuh agar tidak menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.
Hingga berita ini ditulis, persoalan mengenai kesesuaian nilai anggaran per porsi dengan menu yang diterima siswa masih menjadi perhatian wali siswa dan masyarakat, serta diharapkan dapat dijelaskan secara terbuka oleh pihak terkait.









