LSM: Lapar Siang Malam

- Redaksi

Minggu, 3 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Fauzi As

Mari kita jujur pada diri sendiri, jujur melihat fakta, meski fakta tidak selalu hadir dengan ramah. Beberapa data yang saya pegang adalah fakta yang susah untuk dikaburkan. Bukti transfer, rekaman komunikasi, dan banyak hal yang menggambarkan betapa profesi hanya dipakai oleh oknum sebagai pelindung kejahatan saja.

Mungkin cerita kades dan pengusaha itu terdengar lucu. Ada yang sembunyi di bawah meja, ada yang gonta-ganti nomor, ada yang tiap hari didatangi seperti tamu tak diundang yang lebih rajin dari penagih hutang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya tidak setuju dengan paronomasia pada judul di atas, saya hanya bisa tertawa ketika seorang pengusaha rokok yang mengucapkan itu.

Tapi di balik tawa itu, ada satu kenyataan yang tidak bisa kita tutupi: kita sedang hidup di zaman di mana profesi mulia dipakai sebagai jas hujan. Dipakai saat butuh lalu dilepas saat kenyang.

Saya tidak sedang menyalahkan semua. Bagi saya “Itu Oknum”. Tidak adil kalau kita pukul rata. Karena kita tahu, masih banyak LSM yang benar-benar bekerja: mendampingi masyarakat, melawan ketidakadilan, bahkan sering berdiri paling depan saat negara datang terlambat.

Baca Juga:  Serapan Anggaran Melambat, Disparitas Membesar

Tapi masalahnya, yang asli sering kalah suara dengan yang berisik.

Dan yang berisik ini… punya pola yang sama.

Datang membawa nama “lembaga”, pulang membawa “amplop”.

Mengatasnamakan kontrol sosial, tapi praktiknya kontrol perut sendiri. Bahasanya advokasi, tapi nadanya intimidasi.

Lebih menarik lagi, mereka tidak pernah kehabisan energi. Pagi LSM, siang wartawan, malam aktivis. Seakan-akan idealisme bisa di-shift seperti kerja pabrikan.

Lalu kita bertanya: kenapa ini bisa terjadi?

Jawabannya sederhana, tapi pahit-karena dapur mereka belum selesai dibangun, tapi sudah dipaksa berasap.

Ketika lapangan kerja sempit, ketika ekonomi daerah tidak memberi ruang hidup yang layak, maka profesi yang tidak butuh ijazah tinggi ini, tidak butuh modal besar, dan bisa “langsung menghasilkan” akan jadi magnet.

Dan dua profesi ini-LSM dan jurnalis-sering jadi pelabuhan singgah.

 

Bukan karena panggilan jiwa,

tapi banyak karena panggilan kebutuhan perut.

Mungkin ini tetasa pedih, tapi inilah ironi yang harus kita akui bersama. Kita terlalu sibuk marah pada oknum, tapi lupa memperbaiki sebab lahirnya oknum.

Baca Juga:  How Collection Made Me A Better Salesperson Than You

Kita teriak soal etika,

tapi membiarkan ekonomi masyarakat tetap tercekik.

 

Kita ingin LSM bersih,

tapi membiarkan anak-anak muda tidak punya pilihan kerja selain “jadi apa saja yang bisa makan hari ini.”

 

Padahal kalau kita kembali ke definisinya,

LSM itu bukan tempat berlindung-tapi tempat berjuang.

 

Bukan alat tekan-tapi alat pendampingan.

Bukan jalan pintas-tapi jalan panjang yang penuh kesabaran.

Artinya, yang harus kita selamatkan bukan hanya citra profesinya,

tapi juga ekosistem yang melahirkannya.

 

Madura tidak kekurangan orang pintar.

Tidak kekurangan orang berani.

Tidak kekurangan orang yang mau bekerja.

Yang kurang adalah:

akses, kesempatan, dan keberpihakan.

 

Bayangkan kalau lapangan kerja terbuka lebar,

kalau industri lokal hidup,

kalau petani sejahtera,

kalau anak muda punya pilihan selain “menjadi apa saja demi bertahan.”

Maka profesi akan kembali ke tempatnya.

LSM akan diisi oleh orang yang benar-benar ingin mengabdi.

Baca Juga:  Spirit Kelubangsaan Majelis Salakan

Jurnalis akan diisi oleh mereka yang mencintai kebenaran, bukan jualan judul yang menakutkan.

Dan kades tidak perlu lagi sembunyi di bawah meja, karena yang datang bukan lagi “lapar siang malam”, tapi benar-benar datang membawa solusi, bukan proposal terselubung.

Kita tidak bisa hanya menyindir.

Kita juga harus membenahi.

Karena kalau dapur masyarakat tetap kosong,

maka jangan heran kalau “idealisme” terus dijual di atas timbangan kiloan.

Dan kalau itu terus dibiarkan,

maka yang rusak bukan hanya profesi-tapi kepercayaan kita sebagai satu masyarakat.

Madura tidak butuh lebih banyak suara keras.

Madura butuh lebih banyak perut yang kenyang,

agar mulut bisa bicara jujur tanpa harus dibayar.

Terakhir saya ingin ucapkan, Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia.

Di era digital di saat semua orang bisa jadi “media”, dimana batas antara fakta dan opini makin tipis.

Di sinilah pers diuji: bukan hanya bebas berbicara, tapi mampu menyajikan kebenaran yang jernih, adil, dan tidak ditunggangi oleh kepentingan pribadi.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel timeskota.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik Vs Kepemimpinan Birokrasi
Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan
MBG: Malaikat Berjubah Gelap
Rektor atau Maling Kelas Kakap?
Spirit Kelubangsaan Majelis Salakan
Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi
Serapan Anggaran Melambat, Disparitas Membesar

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 10:39 WIB

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Jumat, 17 Juli 2026 - 06:55 WIB

Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik Vs Kepemimpinan Birokrasi

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:43 WIB

Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan

Minggu, 21 Juni 2026 - 21:12 WIB

MBG: Malaikat Berjubah Gelap

Sabtu, 13 Juni 2026 - 06:40 WIB

Rektor atau Maling Kelas Kakap?

Berita Terbaru